Jembatan Ambruk, Tutup Jalur Transportasi Sungai
Kondisi jembatan Sungai Perumbi yang ambruk hingga menutup akses keluar-masuk perahu dari hulu dan hilir sungai. (istimewa)
Riau Analisa.com-MERANTI-Sebuah jembatan ambruk dan melintang ditengah sungai. Kejadian itu terjadi di Sungai Perumbi, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, kemarin.
Sejumlah kilang sagu di sepanjang aliran sungai terancam menghentikan operasional akibat terputusnya jalur transportasi sungai. Patahan jembatan yang roboh beberapa waktu lalu kini menutup total lalu lintas perahu dari arah hulu maupun hilir Sungai Perumbi. Akibatnya, aktivitas keluar-masuk bahan baku serta distribusi hasil produksi tepung sagu lumpuh total.
Keluhan tersebut disampaikan Sandi, salah seorang pengusaha kilang sagu terdampak. Menurutnya, kondisi itu tidak hanya menimpa usahanya, tetapi juga dirasakan oleh sejumlah kilang lainnya di kawasan tersebut.
"Sejak kejadian itu, bahan baku sulit masuk, sementara hasil produksi tidak bisa dibawa keluar. Jalur sungai tertutup oleh patahan jembatan yang ambruk, sehingga perahu tidak bisa melintas," ujarnya kepada Riaupos.co, Kamis (22/1/2026).
Sandi menjelaskan, Sungai Perumbi merupakan satu-satunya akses logistik bagi sebagian besar kilang sagu di wilayah tersebut. Ketika akses itu terputus, seluruh aktivitas produksi otomatis terhenti, baik dari sisi pasokan bahan baku maupun distribusi hasil produksi, sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar.
Jika kondisi ini tidak segera ditangani, usaha kilang sagu di wilayah itu berpotensi gulung tikar dan belasan tenaga kerja terancam harus dirumahkan. "Kalau kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya produksi yang terhenti, tapi usaha bisa tutup. Ini menyangkut mata pencaharian banyak keluarga," tegasnya.
Menindaklanjuti persoalan tersebut, para pengusaha kilang sagu mengaku telah menyampaikan keluhan secara resmi kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kepulauan Meranti serta kepada Pemerintah Provinsi Riau. Namun hingga kini belum ada kejelasan terkait penanganan di lapangan.
"Sudah kami laporkan ke PUPR kabupaten dan provinsi, tapi sampai sekarang belum ada informasi perkembangan, sementara kerugian terus berjalan setiap hari," katanya.
Selain berdampak pada sektor produksi sagu, terputusnya jalur Sungai Perumbi juga mengganggu distribusi kebutuhan pokok masyarakat sekitar yang selama ini mengandalkan transportasi air sebagai sarana utama mobilitas.(ran)










