Bangkinang dan Baserah Kuansing Semarak Aghi Ghayo Onam
Sisampek raksasa yang dibawa masyarakat menuju rumah godang (dac/rp)
Riau Analisa.com-PEKANBARU-Tradisi Hari Raya Enam berlansung semarak di dua daerah yakni Bangkinang Kampar dan Baserah Kuansing. Tradisi Ziarah Kubur Hari Raya Enam atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Aghi Ghayo Onam” kembali dilaksanakan secara khidmat dan penuh kebersamaan oleh masyarakat Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar, Sabtu (28/3/2026).
Kegiatan yang telah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Kampar ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian perayaan Idulfitri, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi serta memperkuat nilai-nilai religius dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada pelaksanaan tahun ini, Bupati Kampar Ahmad Yuzar turut mendampingi Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi dalam rangkaian kegiatan ziarah kubur di sejumlah lokasi permakaman yang tersebar di wilayah Kecamatan Bangkinang.
Turut hadir Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, Pj Sekda Kampar Ardi Mardiansyah beserta istri, unsur Forkopimda Kampar beserta istri, para kepala OPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau dan Kabupaten Kampar, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat Bangkinang yang antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah kubur secara bersama-sama ke lebih kurang 15 lokasi permakaman yang tersebar di beberapa kampung di Kecamatan Bangkinang. Kegiatan ziarah dilaksanakan dengan berjalan kaki sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur masyarakat Kampar. Kegiatan kemudian ditutup dengan pelaksanaan salat berjamaah serta makan bersama di Masjid Mujahidin Bangkinang.
Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi dalam arahannya menyampaikan bahwa tradisi Aghi Ghayo Onam merupakan warisan budaya religius masyarakat Kampar yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang sangat tinggi, khususnya dalam mempererat hubungan kekeluargaan antarmasyarakat, baik yang berdomisili di kampung halaman maupun yang datang dari perantauan.
Menurutnya, momentum Aghi Ghayo Onam menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Khalik.
“Momentum Aghi Ghayo Onam ini merupakan ajang silaturahmi masyarakat, khususnya bagi para perantau yang pulang kampung setelah Hari Raya Idulfitri. Tradisi ziarah kubur ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setiap manusia akan kembali kepada Sang Khalik, sehingga melalui kegiatan ini diharapkan dapat semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT,” ujar Syahrial Abdi.
Ia juga menambahkan bahwa Idulfitri merupakan momentum kemenangan spiritual bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, sehingga nilai-nilai kesucian yang diperoleh selama Ramadan diharapkan dapat terus dijaga melalui kegiatan-kegiatan keagamaan seperti tradisi Aghi Ghayo Onam.
Sementara itu, Bupati Kampar Ahmad Yuzar menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kehadiran Pemerintah Provinsi Riau yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Provinsi Riau beserta jajaran, Forkopimda Provinsi Riau dan Kabupaten Kampar, para kepala OPD Provinsi Riau dan Kabupaten Kampar, serta seluruh tokoh masyarakat yang turut berpartisipasi dalam pelaksanaan tradisi Aghi Ghayo Onam di Kecamatan Bangkinang.
Ia menegaskan bahwa tradisi Aghi Ghayo Onam merupakan identitas budaya religius masyarakat Kampar yang harus terus dilestarikan sebagai bagian dari kekuatan sosial masyarakat dalam membangun kehidupan yang harmonis, berakhlak, dan berkeadaban.
“Kebersamaan dan kesolidan kita dalam membangun kehidupan sosial kemasyarakatan terus terjaga dan terbukti melalui kegiatan silaturahmi seperti Aghi Ghayo Onam ini. Tradisi ini bukan hanya kegiatan ziarah semata, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persatuan masyarakat serta menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda,” ujar Ahmad Yuzar.
Lebih lanjut, Ahmad Yuzar juga berharap momentum Hari Raya Enam dapat menjadi sarana memperkuat ukhuwah islamiyah, meningkatkan kepedulian sosial, serta mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun
Kabupaten Kampar yang religius, harmonis, dan sejahtera.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho yang untuk pertama kalinya menghadiri pelaksanaan Aghi Ghayo Onam sejak menjabat sebagai Wali Kota Pekanbaru menyampaikan bahwa tradisi tersebut memiliki nilai kebersamaan yang sangat kuat dan menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan Idulfitri bagi masyarakat Kampar maupun masyarakat Pekanbaru yang memiliki hubungan historis dan kultural yang erat.
“Kampar ini tidak asing bagi kami. Kami mewakili masyarakat Pekanbaru yang tidak dapat dipisahkan dari Kabupaten Kampar, karena sebagian besar masyarakat Pekanbaru berasal dari Kampar. Aghi Ghayo Onam menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat kita,” ungkap Agung Nugroho.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan masyarakat, pada kesempatan tersebut Wali Kota Pekanbaru juga menyerahkan bantuan untuk pembangunan Masjid Mujahidin Bangkinang sebesar Rp20 juta.
Sementara itu, tokoh masyarakat Kecamatan Bangkinang H Zainal Abidin menyampaikan bahwa tradisi Aghi Ghayo Onam merupakan simbol kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Kampar yang terus terjaga hingga saat ini. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan silaturahmi antarmasyarakat lintas generasi sekaligus memperkuat nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“Alhamdulillah pada Aghi Ghayo Onam ini kita semua dapat berkumpul dalam rangka memperkuat silaturahmi yang terus dapat kita pertahankan. Terima kasih atas kehadiran para tokoh dan seluruh masyarakat pada Hari Raya Enam di Bangkinang ini,” ujar Zainal Abidin.
Sementara itu, salah seorang warga Dusun Kampung Godang Farida mengungkapkan, Aghi Ghoyo Onam selain diisi dengan ziarah kubur, makan bajambau, juga bersilaturahmi ke rumah keluarga.
‘’Biasanya makanan khas daerah Kampar lemang, lontang dan disajikan bagi sanak keluarga yang bersilaturahmi,’’ jelas Farida.
Tradisi Aghi Ghayo Onam sendiri merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Kabupaten Kampar yang dilaksanakan setiap tanggal 8 Syawal sebagai bentuk rasa syukur setelah Idulfitri sekaligus penghormatan kepada para leluhur melalui kegiatan ziarah kubur yang sarat dengan nilai spiritual, sosial, dan budaya yang terus dijaga kelestariannya hingga saat ini.
Rayo Onam Tradisi Masyarakat Baserah di Idulfitri
Selain di Bangkinang yang sudah terkenal, Tradisi Rayo Onam juga ada di Baserah Kecamatan Kuantan Hilir, Kuantan Singingi. Tradisi ini dilaksanakan pada Sabtu (28/3) oleh masyarakat setempat. Tradisi ini memang setiap tahun digelar, tepatnya di hari raya keenam Idulfitri. Makanya, masyarakat Baserah Kecamatan Kuantan Hilir sejak dulu menamakannya dengan Tradisi Rayo Onam (Raya Enam).
Masyarakat Baserah dari berbagai suku yang ada, pergi ke rumah godang suku masing-masing sambil membawa berbagai makanan, kue di dalam jambar. Makanan khas yang ada di dalam jambar itu dimakan bersama termasuk tamu undangan yang tiba. Jambar itu juga diiringi dengan beragam sisampek yang dibuat dalam berbagai bentuk. Ada bentuk labu, burung bahkan gajah.
Sisampek ini nanti diperebutkan oleh anak cucu kemenakan masing-masing suku. Tahun ini, perayaan tradisi Rayo Onam dihadiri oleh Sekda Kuansing Zulkarnain ST MSi bersama Asisten III Dra Azhar, Kadis Budpar Or Emmerson, Kadis Kominfoss H Doni Aprialdi MH dan beberapa pejabat lainnya.
Masyarakat Baserah tampak antusias mengikuti tradisi tahunan itu. Rayo Onam tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga usai perayaan Idulfitri. Beragam kegiatan digelar, mulai dari pertunjukan seni tradisional, permainan rakyat, hingga kuliner khas daerah yang menarik antusiasme pengunjung dari berbagai desa sekitar.
Sekda Kuansing, Zulkarnaen ST MSi mewakili Bupati Kuansing H Suhardiman Amby menyebutkan, perhelatan Rayo Onam di Koto Tuo Baserah, sangat unik dan penuh makna budaya. Menurut Zulkarnain, pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi sangat merespon berbagai khasanah budaya Kuantan Singingi, yang sangat kaya filosofis sejarah. Makanya sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan.
Camat Kuantan Hilir, H Zamri SPd menyebutkan, Rayo Onam merupakan warisan budaya yang harus terus dilestarikan karena menjadi identitas masyarakat Baserah Kuantan Hilir. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong sektor pariwisata lokal serta meningkatkan perekonomian masyarakat. Ia berharap ke depan, tradisi Rayo Onam terus mendapatkan dukungan dan perhatian dari Pemkab sehingga tradisi ini semakin berkembang dan dikenal luas.
Dengan semangat kebersamaan, Rayo Onam tahun ini kembali menjadi momen penting yang memperkuat persatuan dan melestarikan budaya di tengah masyarakat.(ran)










