Membangun Karakter Qur’ani Anak Usia Dini

Membangun Karakter Qur’ani Anak Usia Dini melalui Integrasi Kurikulum Cinta dan Ekoteologi”
Dr. Zuhairansyah Arifin, M.Ag.
Kaprodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini FTK UIN Suska Riau
Pada masa anak usia dini, proses pendidikan berlangsung dalam fase yang oleh para ahli disebut sebagai golden age, masa ketika otak berkembang paling cepat dan paling mudah membangun hubungan-hubungan saraf baru. Para pakar perkembangan seperti Jean Piaget menjelaskan bahwa anak berada pada tahap preoperational, di mana kemampuan imitasi, bahasa, dan simbol sangat kuat sehingga apa pun yang dilihat dan didengar anak akan dengan mudah diserap. Selaras dengan itu, Vygotsky menegaskan bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi interaksi sosial; setiap percakapan, contoh, atau arahan dari guru dan orang dewasa dapat menjadi scaffolding yang mendorong loncatan perkembangan anak jauh melampaui usianya.
Daya serap belajar ini semakin dipertegas Maria Montessori yang menyebut fase awal kehidupan sebagai “the absorbent mind”, yaitu kondisi ketika pikiran anak bekerja seperti spons yang menyerap pengalaman tanpa usaha keras. Bagi Montessori, segala hal yang diperlihatkan kepada anak, baik menyangkut nilai, bahasa, tingkah laku, maupun kebiasaan hidup, akan terekam kuat dalam memori bawah sadar. Maka, lingkungan belajar yang teratur, penuh kasih, indah, dan kaya keteladanan menjadi kunci terbentuknya karakter dasar anak.
Dari perspektif psikososial, Erik Erikson menjelaskan bahwa masa anak usia dini berada pada tahap trust vs mistrust dan initiative vs guilt. Pada tahap ini, anak sangat peka secara emosional; sikap lembut, responsif, dan penuh cinta dari orang dewasa membangun rasa aman yang kemudian memengaruhi keberanian mereka untuk bereksplorasi. Ketika suasana belajar hangat dan mendukung, anak bukan hanya merekam materi, tetapi juga membangun kepercayaan diri serta inisiatif yang berkelanjutan.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Loris Malaguzzi, tokoh pendekatan Reggio Emilia, yang menekankan bahwa anak memiliki “seratus bahasa”—seribu cara untuk mengekspresikan diri, bertanya, bereksperimen, dan berpikir. Oleh sebab itu, ketika anak diberi ruang untuk bergerak, menyentuh, berdialog, bermain, dan berinteraksi dengan alam dan temannya, kemampuan belajar mereka melonjak cepat. Pengalaman kecil dapat menghasilkan lompatan besar karena anak tidak sekadar menghafal, tetapi menghayati.
Dari berbagai pandangan tokoh tersebut, tampak jelas bahwa pendidikan anak usia dini memiliki kekuatan “lengket” yang luar biasa. Anak bukan hanya belajar, tetapi merekam. Bukan sekadar meniru, tetapi menginternalisasi. Setiap senyum guru, kalimat lembut, pembiasaan adab, permainan di luar ruangan, nilai cinta kasih, hingga kegiatan menjaga lingkungan akan membentuk pola pikir, kepribadian, dan karakter anak dengan loncatan perkembangan yang sangat signifikan. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini bukanlah tahap awal semata, tetapi fondasi yang menentukan arah kehidupan selanjutnya. Pada fase ini, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga penanam nilai dan pembentuk pengalaman yang menetap dalam ingatan anak. Inilah masa ketika cinta, nilai-nilai Islam, akhlak, kemandirian, dan kecintaan pada alam dapat ditanamkan dengan sangat kuat karena hati dan pikiran anak berada pada kondisi paling terbuka untuk tumbuh.
Dalam konteks inilah, Kurikulum Cinta yang digagas pada masa kepemimpinan Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, menghadirkan paradigma baru bagi pendidikan Islam, termasuk pada jenjang PAUD/RA/TK Islam. Kurikulum ini menegaskan bahwa seluruh proses pendidikan harus berangkat dari kasih sayang, kedamaian, empati, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Hal ini sangat relevan dengan karakteristik anak usia dini yang tumbuh melalui kehangatan, keteladanan, dan pengalaman menyenangkan. Hal senada juga tertera dalam surat al-Fatihah ayat 1 dan 2 “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Kedua ayat ini cukup untuk menyandingkan kurikulum berbasis cinta sangat urgen diaplikasikan dalam kehidupan anak didik, karena Allah sendiri telah menyinggungnya dalam surat al-Fatihah.
Dalam praktik pendidikan Islam anak usia dini, Kurikulum Cinta dapat diwujudkan melalui suasana belajar yang lembut, sapaan ramah, pelukan edukatif, serta cerita-cerita bernuansa kasih sayang Nabi Muhammad. Bagi calon guru PIAUD, dosen perlu memastikan bahwa konsep cinta tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diinternalisasi. Perkuliahan dapat diawali dengan refleksi hati, diskusi tentang kasih sayang Rasul kepada anak-anak, role play komunikasi penuh cinta, hingga studi kasus pola asuh lembut (positive discipline). “Tabassumuka fi wajhi akhika laka shadaqah” , begitu hadis rasul selalu tersenyum kepada setiap orang, sehingga senyummu dihadapan saudaramu adalah merupakan sedekah. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya mengetahui, tetapi merasakan bagaimana cinta menjadi fondasi interaksi dengan peserta didik.
Selanjutnya, muatan Ekoteologi memperkaya Kurikulum Cinta dengan menanamkan kesadaran bahwa mencintai Tuhan berarti mencintai seluruh ciptaan-Nya. Dalam dunia PIAUD, konsep ini dapat diterjemahkan ke dalam aktivitas sederhana namun sarat makna. Dunia anak usia dini perlu mengenal tumbuhan, memegang tanah, memberi minum tanaman, mengamati kupu-kupu, atau memilah sampah. Semua aktivitas tersebut bukan sekadar permainan, tetapi dibingkai dalam nilai tauhid dan rasa syukur, bahwa segala yang ada diciptakan oleh Yang Maha Tinggi, yakni Allah Swt. Pada dosen dapat melatih mahasiswa merancang pembelajaran berbasis alam (nature-based learning) bernuansa spiritual, seperti proyek mini kebun kelas, program “Jumat Bersih”, atau cerita islami tentang amanah menjaga bumi. Para dosen, guru, tokoh masyarakat dan anak didik mesti menjadi pemberi pencerahan kepada masyarakat bahwa di setiap aliran sungai, laut, udara, disana terdapat keberadaan Tuhan. Sungai adalah tempat manusia untuk minum, mencuci pakaian, mandi, oleh sebab itu tak boleh dicemari dengan sampah dan limbah industri. Laut adalah tempat makhluk Tuhan hidup seperti ikan, tumbuhan laut, dan semua makhluk yang hidup, tentu tidak boleh tercemar dengan aliran limbah apapun, karena berefek terhadap mata pencaharian para nelayan.
Dari sisi metodologi, pendekatan Deep Learning membuat proses pembelajaran di RA/TK menjadi lebih mendalam dan bermakna. Dalam konteks PAUD Islam, Deep Learning tidak berarti memberikan materi berat, tetapi menghadirkan pengalaman belajar yang menyentuh pikiran, hati, dan perilaku anak. Guru dapat berdialog dengan anak, menanyakan pendapat mereka, memberikan ruang eksplorasi, dan memancing rasa ingin tahu. Misalnya, ketika membahas topik tentang air, guru tidak hanya menunjukkan gambar, tetapi mengajak anak menyentuh, merasakan, dan berdiskusi tentang ciptaan Allah serta pentingnya menjaga air.
Ketika ketiga kurikulum ini dipadukan—Kurikulum Cinta, Ekoteologi, dan Deep Learning—pendidikan anak usia dini tidak lagi sebatas mengenalkan huruf, angka, atau hafalan doa. Lebih dari itu, pendidikan menjadi sarana membentuk anak yang dekat dengan Allah, lembut hatinya, peduli sesama, mencintai lingkungan, dan mampu berpikir reflektif. Dosen PIAUD bertugas menanamkan kesadaran ini kepada mahasiswa melalui contoh konkret, proyek perancangan RPPH berbasis cinta dan alam, serta praktik lapangan yang mencerminkan interaksi penuh empati.
Di lapangan, guru RA/TK dapat menerapkan integrasi ini melalui rutinitas sederhana: menyapa anak dengan senyum, membuka pagi dengan doa syukur, memberi aktivitas bermain air dan tanah, membacakan kisah nabi yang menanamkan cinta dan kepedulian, serta mengajak anak menjaga kebersihan kelas. Semua dilakukan dengan pendekatan Deep Learning, yakni memberi kesempatan anak mengalami, merasakan, berdiskusi, dan menyimpulkan dengan pemahaman mereka sendiri.
Dengan integrasi Kurikulum Cinta, Ekoteologi, dan Deep Learning, pendidikan Islam anak usia dini menjadi ruang tumbuh yang hangat, menyenangkan, reflektif, dan bernilai ilahiah. Dosen menyiapkan guru yang penuh cinta, sementara guru melahirkan generasi kecil yang berakhlak lembut, mencintai alam, dan tumbuh sebagai pribadi yang siap menghadapi masa depan dengan hati lapang dan pikiran cerdas. Inilah pendidikan Islam yang berakar pada nilai, bergerak dengan kasih sayang, dan bertujuan melahirkan manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam. (ZA)










