“Doa Menjaga Martabat Iman di Hadapan Sesama Manusia”

Opini Sabtu, 27 Desember 2025 - 16:36 WIB
“Doa Menjaga Martabat Iman di Hadapan Sesama Manusia”

Oleh Syekh Sofyan Siroj Abduk Wahab.

Dalam pusaran zaman yang hiruk-pikuk, di antara tekanan sosial, geopolitik, dan pergulatan batin seorang mukmin, QS. Al-Mumtahanah:5 hadir sebagai doa yang terasa sangat pribadi. Ia bukan sekadar lafaz indah, melainkan jeritan lembut jiwa yang ingin tetap terhormat di hadapan Tuhan sekaligus bermartabat di mata manusia.

Firman-Nya:

???????? ??? ??????????? ???????? ??????????? ???????? ????????? ????? ???????? ? ??????? ?????? ?????????? ???????????

“Ya Tuhan kami, jangan jadikan kami fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Perspektif Akademik: Sebuah Doa untuk Menjaga Marwah Umat

Secara ilmiah—dalam perspektif tafsir akademik—ayat ini muncul pada konteks sosial ketika umat Islam hidup berdampingan dengan kelompok yang memusuhi risalah mereka. “Fitnah” di sini, menurut Al-Tabari, Al-Qurthubi, dan Ibn Katsir, berarti:

Jangan jadikan kami bahan penghinaan. Jangan jadikan kami tampak lemah hingga agama kami ikut diremehkan. Jangan biarkan musuh mengira bahwa kemenangan mereka atas kami adalah bukti bahwa mereka berada di atas kebenaran.

Dengan kata lain:

Doa ini adalah permohonan agar Allah menjaga wibawa Islam melalui perilaku pengikutnya. Ini melahirkan kaidah akademis dalam studi peradaban: Martabat agama selalu mencerminkan martabat akhlak para pemeluknya. Ketika ayat melanjutkan “Ampunilah kami”, ini secara metodologis menunjukkan bahwa kelemahan umat bukan hanya bersumber dari serangan luar, tetapi bisa juga muncul dari dosa internal yang mengikis kekuatan batin.

Dalam ilmu tafsir, asma “Al-‘Az?z” menegaskan sumber kekuatan pertolongan, dan asma “Al-Hak?m” menegaskan bahwa pertolongan itu tidak datang serampangan—melainkan datang melalui proses yang terencana, penuh hikmah. Ayat ini menghubungkan teologi pertolongan dengan etika moral dan kedisiplinan jiwa.

 Perspektif Filosofis: Manusia sebagai Simbol dari Agama

Dari sudut pandang filosofis, QS. Al-Mumtahanah: 5 membahas hubungan antara identitas manusia dan representasi nilai-nilai transenden. “Fitnah” bukan lagi sekadar penyiksaan fisik, tetapi juga kondisi moral yang menyebabkan manusia salah menafsirkan makna keberadaan seorang mukmin.

Imam Al-Ghazali pernah menulis:

> “Hamba tidak hanya menjaga dirinya, tetapi menjaga makna agama dalam pandangan manusia.”

Maka makna batinnya menjadi sangat dalam:

Jangan jadikan kelemahanku menyebabkan manusia salah memahami-Mu. Jangan biarkan kejatuhanku menyebabkan orang lain semakin jauh dari cahaya-Mu. Jangan jadikan hidupku alasan bagi manusia untuk mengolok-olok kebenaran.

Di sinilah aspek humanisme spiritual bertemu dengan teologi ihsan. Manusia bukan lagi sekadar individu, melainkan cermin bagi nilai-nilai ketuhanan. Ketika ayat mengajarkan “Ampunilah kami”, secara filosofis ia menegaskan bahwa: Jalan menuju martabat luar selalu dimulai dari pembersihan dalam.

Menurut Ibn ‘Athoillah dalam al-Hikam:

> “Tidak ada yang lebih melemahkan hati seperti dosa yang engkau biarkan menetap.”

Jadi ayat ini adalah panggilan eksistensial:

Jadilah manusia yang memantulkan kemuliaan Tuhan, bukan kegelapan nafsu..

Perspektif Populis: Bahasa yang Menyentuh Kehidupan Sehari-hari

Jika diterjemahkan dalam gaya populis—bahasa yang mudah dicerna masyarakat awam namun tetap menjaga ruh spiritual—maka ayat ini seperti mengatakan: “Ya Allah, jangan biarkan kami mempermalukan agama-Mu. Jangan biarkan perilaku kami membuat orang menjauh dari Islam. Tutupi kelemahan kami, kuatkan langkah kami, dan ampuni kesalahan kami.”

Syekh Said Hawwa menekankan sisi dakwah praktis:

> “Jangan sampai akhlakmu menjadi titik kegagalan dakwah.”

Syekh Abdul Halim Mahmud menekankan sisi batin:

> “Musuh terdekat seorang mukmin adalah dirinya sendiri.”

Sementara Syekh Ramadhan al-Buthi memandang ayat ini sebagai pilar moral masyarakat:

> “Umat menjadi kuat ketika mereka bersih, dan menjadi hina ketika mereka rusak dari dalam.”

Maka dalam bahasa keseharian, pesan ayat ini sederhana namun menghunjam: Jangan jadi alasan orang benci Islam. Jangan tampil dengan akhlak yang membuat agama tampak buruk. Jadilah contoh kebaikan hingga orang melihat indahnya iman.

Metode Al-Qur’an Tadabbur & Amal

Metode ini memetakan ayat ini menjadi empat langkah transformasi:

(1) Iqra’ – Membaca realitas

Kita hidup di dunia yang memandang agama dari perilaku pemeluknya.

(2) Tafshil – Memerinci kondisi batin

Setiap kelemahan pribadi berpotensi melahirkan kesalahpahaman publik terhadap agama.

(3) Tadabbur – Merenungkan makna hidup

Ayat ini mengajarkan bahwa integritas adalah bentuk ibadah yang paling berpengaruh secara sosial.

(4) Amal – Menerapkan

Menjaga akhlak, memperbaiki diri, menguatkan iman, dan memohon ampun secara konsisten.

 Kajian Alfathu Nawa, antara poin penting :

1. Kesadaran diri — setiap mukmin bisa menjadi ujian bagi orang lain.

2. Kesadaran sosial — akhlak kita adalah wajah agama.

3. Taubat sebagai energi kehidupan — ampunan memberi kekuatan untuk bangkit.

4. Tawakkul berbasis kemahaperkasaan Allah — kekuatan sejati bukan dari manusia.

5. Tawakkul berbasis kebijaksanaan Allah — ketenangan muncul saat menyadari semua ada dalam hikmah-Nya.

Doa Menjaga Wibawa Ruhani

QS. Al-Mumtahanah: 5 bukan hanya doa perlindungan. Ia adalah doa pembentukan karakter. Doa agar Tuhan menjaga kita dari menjadi alasan orang berpaling dari kebenaran. Doa yang mengajarkan bahwa martabat iman bukan hanya dibela dengan argumen, tetapi dengan kebersihan hati dan kualitas akhlak.

Pesan abadi ayat ini:

Jangan hanya berdoa agar diselamatkan. Berdoalah agar imanmu tetap terhormat. Berdoalah agar aibmu ditutupi oleh rahmat-Nya.Berdoalah agar hidupmu menjadi cahaya, bukan fitnah.




Duka cita pemkab rohul

Mutiara Spesial Deal

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.