“Tauhid Kekuasaan: Kebebasan Batin dan Kedisiplinan Sosial”

Oleh Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab
"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu."
Ayat ini merupakan salah satu doa terbesar yang diajarkan oleh Rasulullah ?, doa yang membawa manusia kembali kepada pusat seluruh realitas: Allah sebagai Pemilik kekuasaan mutlak. Dalam masyarakat yang berubah cepat, dalam dunia sosial-politik yang silih berganti antara pemenang dan pecundang, ayat ini hadir laksana menara yang memberikan orientasi: bahwa semua naik–turun, jatuh–bangun, mulia–hina, semuanya bergerak dalam orbit kehendak Allah.
????? ????????? ???????
“Kekuasaan itu milik Allah sepenuhnya.”
Dalam satu kalimat ini, seluruh bangunan tauhid sosial-politik berdiri. Ia memutus ketergantungan kita pada tokoh, patron sosial, sistem politik, bahkan pada diri sendiri. Sebab manusia hanya memegang kekuasaan sebagai amanah sementara, sedangkan pemiliknya tetap Allah, Zat yang tidak berubah oleh waktu dan situasi.
Makna Zahir (Akademik – Tekstual)
a. “Malikal-Mulk” – Allah Pemilik Kekuasaan Absolut
Dalam tafsir Ibn Katsir, Al-Qurthubi, dan Al-Tabari, frasa ini menegaskan empat prinsip:
1. Allah pemilik seluruh jenis kekuasaan, material maupun moral.
2. Allah mengatur sirkulasi kekuasaan, siapa yang naik dan turun.
3. Kekuasaan manusia hanyalah titipan, bukan otoritas hakiki.
4. Tidak ada kekuasaan yang berdiri sendiri, semuanya bersandar pada kehendak-Nya.
Maka ayat ini tidak hanya berbicara tentang raja dan pemerintahan, tetapi juga kekuasaan dalam keluarga, pengaruh sosial, otoritas spiritual, bahkan rezeki.
b. “Tu’t? al-mulka man tasy?’” – Engkau berikan kepada siapa yang Engkau kehendaki
Para ulama menjelaskan bahwa pemberian ini kadang bukan karena seseorang paling pantas secara lahir, tetapi karena Allah sedang menegakkan hikmah tertentu: menguatkan yang sabar, menguji yang lemah, atau membuka perjalanan sejarah baru.
c. “Tanzi‘u al-mulka mimman tasy?’” – Engkau cabut dari siapa saja
Ayat ini adalah tamparan lembut bagi mereka yang lupa diri. Kedudukan bisa dicabut oleh Allah dalam sekejap: lewat perubahan politik, lunturnya kepercayaan masyarakat, hilangnya kharisma,
atau remuknya integritas. Inilah sunnatullah: kekuasaan tidak pernah dijamin lestari.
d. “Tu‘izzu man tasy?’, tuzillu man tasy?’”
Kemuliaan dan kehinaan dalam ayat ini bukan hanya status sosial, tetapi: kemuliaan akhlak, keluhuran hati, kejernihan ruhani, atau sebaliknya: jatuhnya martabat moral.
Allah menegaskan:
???????????? ??????? ????????
“Kemuliaan seluruhnya milik Allah.” (Yunus: 65)
Dan Rasulullah ? bersabda:
> “Allah memberikan dunia kepada yang dicintai maupun yang tidak dicintai, tetapi iman hanya diberikan kepada yang dicintai.” (HR. Hakim)
2. Makna Batin (Filosofis – Spiritual)
a. Pembebasan jiwa dari ketergantungan kepada makhluk
Imam Fakhruddin ar-Razi memaknai ayat ini sebagai:
> “Pembebasan batin dari ketergantungan pada selain Allah.”
Selama hati bergantung pada manusia, pada jabatan, pada pujian, pada kekuasaan, maka hati tidak pernah benar-benar merdeka. Ayat ini mengajarkan keberanian moral dan ketenangan ruhani: bahwa sumber kekuatan bukan di luar, tetapi di sisi Allah.
b. Kekuasaan sejati adalah kekuasaan atas diri sendiri
Imam Al-Ghazali berkata:
> “Kekuasan terbesar adalah kekuasaan atas diri sendiri.”
Ini disebut muluk an-nafs: kekuasaan mengendalikan hawa nafsu. Ayat ini menggeser persepsi publik tentang kekuasaan: bukan sekadar kursi, melainkan kemampuan menjaga integritas saat peluang untuk menyimpang terbuka lebar.
c. “Biyadikal-khayr” – segala kebaikan ada di tangan-Mu
Para sufi menjelaskan bahwa makna ini tidak hanya kesadaran teologis, tapi rasa batin bahwa:
apa pun yang tampak buruk mungkin menyimpan kebaikan, yang pahit adalah obat, yang hina mungkin mulia di sisi Allah. Inilah sirrul-hikmah, rahasia yang membuat seorang mukmin tetap lembut hati di tengah cobaan.
Perspektif Ulama Klasik
Imam Ibn Katsir
Menggambarkan ayat ini sebagai peta besar perubahan sosial dan sejarah, bahwa Allah-lah yang menggerakkan peradaban.
Imam Al-Qurthubi
Menekankan bahwa kedudukan dunia bukan medan fanatisme, sebab kekuasaan berpindah-pindah sesuai kehendak-Nya.
Imam Fakhruddin ar-Razi
Mengaitkan ayat ini dengan etika hati:
> “Siapa yang mencari kemuliaan dari selain Allah, niscaya ia akan ditelantarkan.”
Perspektif Ulama Kontemporer
Sywkh Said Hawwa
Menekankan aspek ruhiyah para aktivis dakwah:
> “Kemenangan dakwah bukan bergantung pada organisasi, tetapi pada kemurnian tauhid.”
Syekh Ramadhan al-Buthi
Memandang ayat ini sebagai fondasi etika politik Islam: jabatan bukan ambisi, tetapi amanah moral.
Syekh Abdul Halim Mahmud
Menegaskan bahwa kemuliaan bukan efek kekayaan atau kedudukan:
> “Kemuliaan sejati turun dari langit, bukan naik dari bumi.”
Tadabbur “Al-Qur’an Tadabbur & Amal”
Ayat ini bila ditadabburi melalui metode empat langkah:
1. Iqra’ – membaca realitas Sejarah membuktikan: kekuasaan naik turun secara konstan.
2. Tafshil – merinci diri Tanyakan: Apakah aku mencari kemuliaan dari manusia atau dari Allah?
3. Tadabbur – menemukan pesan hidup Kekuasaan adalah amanah sementara. Yang abadi adalah nilai.
4. Amal – aksi nyata, bersihkan niat, hindari kezaliman, jaga adab kekuasaan, berani berkata benar. Alfathu Nawa , menyebut ayat ini sebagai “Tauhid Peradaban”, dengan lima pilar:
1. Kesadaran Kedaulatan Allah – hanya kehendak-Nya yang berlaku.
2. Etika Kekuasaan – jabatan adalah beban moral, bukan kemewahan.
3. Tazkiyah Ruhiyah – bersihkan jiwa dari cinta dunia.
4. Kesabaran Strategis – perubahan sosial berjalan dalam ritme Ilahi.
5. Optimisme Suci – segala kebaikan ada di tangan Allah.
Ending.
QS. Ali ‘Imran: 26 bukan sekadar doa, melainkan framework spiritual dan sosial. Ia mengajarkan kemandirian batin, ketegasan moral, dan kerendahan hati dalam memegang amanah. Kekuasaan boleh naik dan turun, tetapi hati yang bertauhid tidak pernah goyah. Sebab yang diharapkan bukan kekuasaan, melainkan ridha Tuhan pemilik kekuasaan.
Inilah kebebasan batin. Inilah kedisiplinan sosial. Inilah tauhid kekuasaan.










