Ketika Hati Belajar Merendah di Hadapan Rahasia Allah

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab
Surah Maryam dibuka dengan rangkaian huruf: ?????—lima huruf yang terdengar sederhana, namun memikul beban makna yang tak terhingga. Ayat ini bukan susunan kata; ia hanyalah potongan huruf yang berdiri sendiri. Para ulama menamainya ?ur?f muqa??a‘?t—huruf-huruf yang diputus, yang hakikat maknanya hanya diketahui oleh Allah. Tetapi justru pada titik ketidaktahuan inilah letak tadabbur paling mendalam: manusia diajak untuk merasakan bahwa di hadapan wahyu, ada wilayah-suci yang tak boleh diterobos oleh keangkuhan akal.
Dalam dunia modern, manusia sering terjebak pada obsesi untuk menguasai segala sesuatu. Ilmu pengetahuan dijadikan alat untuk mengukur kebenaran; jika tidak bisa dijelaskan, maka dianggap tidak ada. Namun Al-Qur’an, sejak huruf pertamanya pada Surah Al-Baqarah—???—dan dalam ayat pertama Surah Maryam, menghadirkan pukulan lembut namun tegas: “Tidak semua hal untuk kamu pahami. Sebagian adalah rahasia-Ku.” Di sinilah kerendahan epistemik menjadi bagian dari iman. K?f H? Y? ‘Ain ??d seolah menyampaikan pesan: “Sebelum kamu memahami kisah Zakariya, Maryam, dan Isa yang penuh keajaiban, latihlah dulu hatimu untuk tunduk.”
Secara akademik, para mufassir klasik seperti Ibn Kathir dan Al-Tabari memandang huruf-huruf ini sebagai bentuk tan challenge: tantangan sastra bagi Quraisy. Al-Qur’an tersusun dari huruf yang sama dengan bahasa mereka, namun mereka tak mampu menghasilkan satu surah pun untuk menandinginya. Sementara Al-Razi melihatnya sebagai tanb?h, sebuah alarm spiritual agar pendengar bersiap menerima wahyu. Dan Al-Qur?ubi menyimpulkan: huruf muqa??a‘at adalah tanda keagungan wahyu dan
Akan tetapi, lapisan batin ayat ini jauh lebih subtil. Para tokoh tasawuf Sunni seperti al-Qusyairi, al-Junayd, dan Ibn ‘A??’illah melihat huruf-huruf ini sebagai “ketukan ruhani” agar hati terbangun, bukan sekadar telinga. Jalan menuju Allah tidak dapat ditempuh hanya dengan memaksimalkan logika; ia memerlukan takhallush, pengosongan diri dari kesombongan intelektual. Ia membutuhkan hati yang rela mengakui: “Saya tidak tahu, tetapi saya percaya.”
Ibn ‘A??’illah bahkan menyebut huruf-huruf ini sebagai pembuka kasyf, penyingkapan ruhani—bukan karena hurufnya memiliki makna tersembunyi tertentu, tetapi karena ia melatih kita menerima bahwa sebagian wilayah pengetahuan itu “dirahasiakan” agar manusia tidak sesat oleh keangkuhan. Dan Ibn ‘Arabi menyebut ????? sebagai sirr, rahasia antara Allah dan hamba-Nya. Bukan untuk dianalisis, melainkan untuk disambut dengan adab.
Ketika Surah Maryam dimulai dengan rangkaian huruf yang tidak jelas maknanya, Allah seperti sedang menanamkan satu adab: sebelum kamu memahami wahyu, bersihkan hatimu dari keinginan menguasai semua pengetahuan. Sebab surah ini akan memuat kisah-kisah yang di luar logika biasa. Zakariya yang renta namun diberi anak. Maryam yang suci namun mengandung tanpa disentuh seorang pun. Isa yang berbicara ketika masih bayi. Semua ini mengharuskan manusia membuka hati seluas-luasnya untuk menerima keajaiban.
Bagi pembaca awam, ????? dapat dipahami secara sederhana: ini latihan untuk berhenti memaksa diri memahami segalanya. Ia adalah isyarat bahwa dalam hidup, ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan secara sempurna—tapi itu tidak menghilangkan kebenaran dan hikmahnya. Sebagaimana seseorang tidak melihat angin namun merasakan hembusannya, demikian pula huruf-huruf ini: tidak dipahami, tapi menyentuh.
Dalam tradisi kontemporer, Syaikh Sa‘?d Ramadan al-B??? menyebut huruf muqa??a‘at sebagai “pukulan pertama kepada kesombongan akal”—setelah itu barulah wahyu berbicara. Sementara Said Hawwa menyebutnya sebagai “latihan tazkiyah”, pembersihan hati agar kisah-kisah setelahnya masuk bukan hanya melalui telinga, tetapi menancap di dada. Dan Abdul Halim Mahmud mengatakan: huruf-huruf ini adalah tanda bahwa Al-Qur’an memiliki lapisan-lapisan makna yang tidak akan pernah selesai ditafsirkan manusia, bahkan oleh generasi paling dekat dengan Nabi sekalipun.
Di sinilah kita melihat perpaduan antara dimensi akademik, filosofis, dan spiritual. Akademik membuka pintu pengetahuan; filosofis mengajarkan kedalaman makna; spiritual menghidupkan ruh. Tadabbur ????? adalah latihan untuk menghadirkan ketiganya dalam satu kesadaran: bahwa wahyu melampaui kata-kata, dan hati memiliki bahasa yang tidak dikenal oleh logika.
Jika kita membagi huruf-huruf ini ke dalam pesan ruhani, maknanya semakin terasa: K?f (qudrah) mengingatkan kita pada kekuasaan Allah yang mengatur seluruh kisah dalam surah ini. H? (hud?) menandakan petunjuk Ilahi yang menjadi benang merah perjalanan para nabi. Y? (yusr) mengajarkan bahwa Allah memberi kemudahan bagi hamba yang berdoa dengan tulus. ‘Ain (‘ilm) mengingatkan bahwa Allah Maha Tahu atas segala hal—bahkan saat manusia tak mengerti apa pun. Dan ??d (?abr) adalah simbol kesabaran Maryam dan para nabi yang diuji melampaui batas manusia.
Semua ini bermuara pada satu inti: tadabbur bukan sekadar memahami, tetapi memasrahkan diri kepada kebijaksanaan Allah. Karena ada wilayah dalam wahyu yang harus diterima dengan kerendahan, bukan ditaklukkan dengan logika. ????? melatih kita mengakui bahwa ada batas antara kita dan rahasia Ilahi—dan justru pada batas itulah iman tumbuh subur.
Maka ketika kita membaca ayat ini, biarkan hati kita berkata:
“Ya Allah, kami tidak tahu maksud huruf-huruf ini. Tapi kami percaya, dan kami tunduk.”
Itulah inti tadabbur. Itulah awal dari perjalanan menuju kedalaman Surah Maryam.










