Ketika Kebohongan menjadi Kenyataan

Opini Selasa, 27 Januari 2026 - 07:21 WIB
Ketika Kebohongan menjadi Kenyataan

Oleh Edhy Aruman

 

Hari-hari ini saya menonton Undercover Miss Hong, yang sedang tayang di Netflix.  Serial ini berkisah tentang Hong Geum-bo, seorang inspektur elit berusia 35 tahun dari Badan Pengawas Keuangan.  Dia dikenal super serius dan hanya hidup untuk pekerjaan.

Dengan wajah awet muda yang nggak sesuai usia aslinya, Geum-bo mendapat tugas berbahaya. Dia menyamar sebagai Hong Jang Mi, seorang lulusan SMA berusia 20 tahun, di sebuah perusahaan sekuritas yang dicurigai terlibat pelanggaran keuangan besar.

Hong Jang-mi berada dalam posisi kritis di Hanmin Securities akibat manuver korporat yang sengaja dirancang untuk mendiskreditkannya. Sebuah narasi telah disebarkan melalui platform komunitas pasar modal "Yeouido Haejeokdan".

Hong Jang-mi diklaim sebagai bagian dari "kekuatan spekulasi". Ia dituduh mengkhianati atau "menusuk dari belakang" Hanmin Securities yang sangat berkuasa.

Rumor menyebutkan bahwa Jang-mi hanyalah pion atau kurir yang digunakan oleh kekuatan tersebut karena posisinya yang rendah. Komentar-komentar jahat dan rumor di platform ini digunakan untuk menghancurkan reputasi profesional Jang-mi secara sistematis.

Meskipun Jang-mi menyangkal keterlibatannya, narasi yang berkembang di publik sudah sangat kuat sehingga sulit bagi dirinya untuk keluar dari perusahaan dengan tangan bersih.

Sampai akhirnya, Jang-mi melawan rumor itu dengan strategi "Seo Dong-yo", mengubah Kebohongan Menjadi Fakta. Dia menyebar rumor bahwa salah satu ekskutif Hanmin melapor ke otoritas jasa keuangan, salah satu eskutifnya juga menghubungi Jang-mi mendukung perusahaan patuh pada aturan.

Jang-mi mengubah rumor yang tidak berdasar menjadi kebenaran yang diterima umum melalui seakan-akan tindakan korporat. Dalam mitologi Korea, Seo Dong-yo telah beredar turun-temurun. Kisahnya diawali dengan peran Seodong.

Seodong, lelaki miskin penjual ubi (yam). Ibunya adalah seorang janda yang tinggal di dekat sebuah kolam besar di ibu kota Baekje. Menurut legenda, naga di kolam tersebut berhubungan dengan ibunya, yang kemudian melahirkan Seodong.

Karena kemiskinannya, ia menggali ubi liar (yam atau ma) di gunung untuk dijual demi menyambung hidup. Karena itulah orang-orang memanggilnya Seodong (??), yang secara harfiah berarti "Bocah Ubi".

Meskipun miskin, Seodong memiliki ambisi besar. Ia mendengar kabar tentang kecantikan luar biasa Putri Seonhwa, putri ketiga Raja Jinpyeong dari kerajaan Silla (kerajaan rival Baekje).

Seodong bertekad untuk mendapatkannya. Dia mencukur rambutnya (mungkin maksudnya menyamar sebagai biksu) dan pergi ke ibu kota Silla, Seorabeol (Gyeongju).

Di sana, dia memanipulasi opini publik dengan strategi yang cerdik. Dia membagikan ubi kepada anak-anak di ibu kota untuk mengambil hati mereka. Dia mengajari mereka sebuah lagu sederhana namun skandalus yang disebut Seodongyo (Lagu Seodong).

Lirik lagu tersebut menyebarkan fitnah bahwa Putri Seonhwa secara diam-diam pergi di malam hari untuk bertemu dan berhubungan intim dengan Seodong. “ “Putri Seonhwa dari Silla, Diam-diam keluar malam, Untuk bertemu Seodong.”

Lagu tersebut menyebar luas hingga ke istana. Ini menjadi skandal besar yang mempermalukan keluarga kerajaan. Para pejabat istana yang percaya pada rumor itu mendesak Raja Jinpyeong terpaksa mengasingkan Putri Seonhwa ke tempat yang jauh. Raja mematuhinya.

Sebelum pergi, ibunya (Ratu) memberinya sekantung emas murni sebagai bekal hidup. Dalam perjalanan pengasingan, Seodong muncul dan menawarkan diri untuk menjadi pengawal sang Putri. Awalnya Putri Seonhwa tidak mengetahui bahwa pria ini adalah Seodong yang disebutkan dalam lagu.

Namun, karena kebaikan dan perlindungan Seodong, Putri akhirnya jatuh cinta padanya. Setelah mereka berhubungan, Putri baru mengetahui nama pria itu adalah Seodong dan menyadari bahwa lagu fitnah itu telah menjadi ramalan yang terpenuhi.

Kisah ini kemudian beralih menjadi cerita tentang kekayaan dan kekuasaan.Suatu hari, Putri Seonhwa menunjukkan emas pemberian ibunya kepada Seodong. Melihat itu Seodong tertawa dan berkata bahwa ia telah menumpuk batu-batu seperti itu (emas) di tempat ia biasa menggali ubi, tanpa mengetahui nilainya.

Putri Seonhwa percaya dan menyadari potensi besar ini dan berkata, "Ini adalah harta karun dunia."

Atas saran Putri, mereka mengumpulkan emas tersebut. Putri menyarankan agar emas itu dikirim ke istana Silla untuk mendapatkan restu Raja Jinpyeong. Dengan bantuan kekuatan gaib biksu Jimyeong dari Kuil Saja, tumpukan emas itu dipindahkan secara ajaib dalam satu malam ke istana Silla beserta surat dari Seodong.

Langkah ini sangat strategis. Pertama, Seodong mendapatkan rasa hormat dan pengakuan dari Raja Silla. Kedua, Langkah itu menghasilkan dukungan finansial dan politik yang kuat bagi Seodong. Ketiga, membantu Seodong memenangkan hati rakyat Baekje berkat kemurahan hatinya membagikan kekayaan.

Berkat dukungan ini, Seodong akhirnya berhasil menikahi Putri Seonhwa dan naik takhta menjadi Raja ke-30 Baekje, bergelar Raja Mu.

Di era digital, pola manipulasi ala Seodongyo dalam hoaks saham bekerja melalui mekanisme self-fulfilling prophecy, yakni ketika sebuah narasi yang terus diulang mendorong perilaku kolektif pasar hingga akhirnya membuat cerita itu benar-benar terjadi.

Dalam konteks komunikasi, ada hukum eksposure dimana ketika sesorang dipapar dengan informasi bohong, karane berulang-ulang konsisten bohong, akhir orang itu percaya bahwa informasi benar. Itu juga berlaku – hipotesis saya – untuk kebohongan-kebohongan yang lain.***

Penulis adalah Jurnalis




Duka cita pemkab rohul

Mutiara Spesial Deal

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.