Akal yang Mengaku, Hati yang Tunduk

Opini Jumat, 13 Februari 2026 - 10:46 WIB
Akal yang Mengaku, Hati yang Tunduk

Oleh Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

 

 

Ada jenis “kebenaran” yang paling sering menipu manusia: kebenaran yang sudah diakui, tetapi belum ditaati. QS. Al-‘Ankab?t (29): 63 menghadirkan cermin tajam itu. Allah bertanya tentang hal yang mudah: siapa yang menurunkan hujan, lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka menjawab cepat, “Allah.” Maka Rasul diperintah menyatakan, “Alhamdulillah.” Namun ayat menutup dengan vonis: “kebanyakan mereka tidak menggunakan akal.” Mengapa? Karena dalam definisi Qur’an, akal bukan mesin jawaban, melainkan kompas yang memaksa seseorang menanggung konsekuensi moral dari pengetahuannya. Akal yang sanggup mengakui tetapi gagal tunduk adalah akal yang berhenti di tengah jalan: kuat di pembuktian, lemah di peribadatan; bisa menyebut Allah sebagai Rabb, tetapi belum menjadikan Allah sebagai pusat ibadah, pusat takut, pusat harap, pusat cinta, dan pusat keputusan.

 

Di sinilah tauhid bekerja sebagai poros. Tauhid bukan sekadar informasi tentang Tuhan, melainkan orientasi yang merapikan hidup. Banyak manusia berhenti pada rub?biyyah: “Saya percaya Tuhan ada, Tuhan mencipta.” Tetapi Al-Qur’an menuntut ul?hiyyah: “Apakah hidupmu juga bersaksi?” Maka Qulil-?amdu lill?h menjadi kalimat strategis, bukan sekadar adab lisan. Ia adalah penguncian hujjah: ketika mereka mengaku “Allah”, sesungguhnya mereka telah mengakui dasar yang membatalkan alasan untuk menyembah selain-Nya. Alhamdulillah adalah syukur bahwa kebenaran tampil terang bahkan dari mulut yang menolak konsekuensinya.

 

Makna batin ayat ini lebih dalam: Allah menghidupkan hati yang mati sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati. Bumi yang gersang tidak menghasilkan apa-apa; hati yang mati juga tidak berbuah—mudah marah, mudah iri, sulit syukur, berat taat. Lalu Allah menurunkan “hujan” hidayah: ilmu yang menyadarkan, nasihat yang mengetuk, ujian yang membersihkan, peristiwa yang memaksa kita merenung. Tadabbur menjadi latihan spiritual yang juga rasional: Al-Qur’an tidak memusuhi akal; ia memulihkannya agar berjalan sampai tuntas—dari pengakuan menuju kepatuhan.

 

Di titik ini, pembahasan “tingkatan ‘?lim tauhid” bukan tambahan yang terpisah, melainkan kelanjutan alami dari QS. 29:63. Sebab ayat ini menguji satu perkara: apakah pengetahuan menjadi arah? Maka ‘?lim tauhid bukan sekadar orang yang mampu menjelaskan tauhid, tetapi orang yang menjadikan tauhid berbuah dalam adab dan maslahat. Dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jam?‘ah, tauhid tidak boleh berhenti di kepala; ia harus turun ke hati, membentuk akhlak, lalu menata tata hidup. Ukuran ‘?lim tauhid bukan hanya kuat menyusun dalil, tetapi kuat menahan diri; bukan hanya mampu membantah, tetapi mampu membina; bukan hanya piawai membedakan istilah, tetapi piawai memelihara persaudaraan dan melahirkan kemaslahatan.

 

Maka, mari kita integrasikan: QS. 29:63 adalah kritik terhadap “akal yang mengaku”; peta “tingkatan ‘?lim tauhid” adalah jalan untuk melahirkan “hati yang tunduk.” Semakin tinggi ilmu tauhid, semakin rendah ego; semakin kuat hujjah, semakin lembut bahasa; semakin tajam aqidah, semakin besar maslahat.

 

Tingkat awal (‘?lim Ta‘l?m?) adalah tertib dasar: seseorang mengenal pondasi iman dan garis besar tauhid. Di sini, buah pertama yang harus lahir bukan kebanggaan, melainkan rasa takut salah bicara tentang Allah. Inilah adab ilmiah. Bahayanya: mabuk jawaban. Di sinilah QS. 29:63 menegur: jawaban benar belum tentu “akal” jika belum menuntun pada ketaatan.

 

Naik ke tingkat manhaj (‘?lim Taq‘?d?), seseorang memahami kaidah, batas, dan peta: mana ushul, mana furu‘; mana qath‘i, mana zhanni; kapan berbicara, kapan tawaqquf. Ia menjadi penjaga gerbang tauhid—namun penjaga yang benar adalah yang menyelamatkan umat dari ekstrem, bukan yang menambah permusuhan. Bahayanya: menjadi “polisi aqidah” tanpa rahmah. Padahal tauhid yang benar menambah ketundukan, bukan menambah keangkuhan.

 

Pada tingkat burh?n?, hujjahnya kokoh, tetapi bahasanya halus. Ia mampu membela aqidah dari syubhat tanpa mempermalukan orang. Ia memahami dosis: kapan menjawab, kapan membimbing, kapan diam. Ciri dewasa: orang yang paling mampu debat biasanya paling tidak butuh debat, karena ia mengejar hidayah, bukan panggung. Bahayanya: kecanduan adu argumen—tauhid berubah menjadi kompetisi.

 

Lalu titik balik: ‘?lim Tazkiyah. Di sini tauhid menjadi cermin batin. Ia membongkar syirik halus: ujub, riya, takut makhluk, penyembahan hasil, kultus tokoh, ketergantungan pada sebab. Ini persis inti QS. 29:63: manusia mengaku Allah, tetapi dalam keputusan hidup tunduk pada selain Allah. Pada tahap tazkiyah, seseorang sibuk menata hatinya, bukan menilai orang. Bahayanya: merasa suci karena sibuk membahas penyakit hati—padahal yang diminta adalah sembuh, bukan pandai bicara.

 

Berikutnya ‘?lim ?ikmah, yakni tauhid yang peka maslahat. Ia paham prioritas dan realitas; ia menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyelamatkan, bukan dengan cara yang memecah. Ia menjaga persatuan tanpa mengorbankan prinsip. Di sinilah ayat “Alhamdulillah” menjadi adab dakwah: syukur karena kebenaran jelas, lalu disampaikan dengan hikmah agar manusia mampu menerima konsekuensinya. Bahayanya: kompromi berlebihan. Hikmah bukan menghapus kebenaran, melainkan menurunkannya dengan rahmah.

 

Naik lagi: ‘?lim I?l???, tauhid sebagai etika publik. Ia memandang tauhid melahirkan amanah dan governance: anti-korupsi, akuntabilitas, perlindungan yang lemah, dan keberanian moral. Ia menolak standar ganda karena ia yakin Allah Maha Melihat. Tauhid bukan hanya meluruskan “kata”, tetapi meluruskan “sistem”. Ini penting: banyak orang mengaku Allah sebagai Rabb, namun praktik sosialnya menzalimi. QS. 29:63 memanggil akal untuk konsisten—dan tingkat i?l??? adalah bentuk konsistensi itu dalam kebijakan dan peradaban. Bahayanya: keras pada yang lemah. Padahal tauhid publik harus paling berrahmat pada yang lemah dan paling tegas pada kezaliman.

 

Puncak: ‘?lim Syuh?d? (ma‘rifat beradab). Ini bukan klaim maq?m, tetapi ketenangan, ketegasan tanpa dendam, dan khidmah. Orang pada level ini jarang bicara besar; manfaatnya yang besar. Ia menyaksikan af‘?l Allah dalam hidup: lapang–sempit sama-sama pendidikan; berhasil–gagal sama-sama tazkiyah. Ia tidak reaktif, tidak mudah terseret drama, karena hatinya sudah punya pusat: Allah. Bahayanya: merasa “sudah sampai” lalu mengklaim. Karena itu puncak syuh?d adalah diam dari klaim dan subur dalam pelayanan.

 

Jika kita satukan semuanya, maka QS. Al-‘Ankab?t 29:63 menjadi fondasi: akal yang benar adalah akal yang menuntun kepada tunduk. Dan peta “tingkatan ‘?lim tauhid” adalah jalan praktis agar tunduk itu bertumbuh: dari pengakuan menuju ketaatan, dari dalil menuju adab, dari ilmu menuju maslahat.

 

Maka, tauhid harus menjadi poros hidup: dalam ibadah: shalat tepat waktu, halal dijaga, syukur ditumbuhkan; dalam akhlak: lisan tertib, amanah ditunaikan, ego dipatahkan;

dalam masyarakat: keadilan ditegakkan, standar ganda ditolak, yang lemah dilindungi;

dalam keputusan: sandaran kembali kepada Allah, sebab diambil tanpa disembah.

 

 

Akhirnya, ukuran ‘?lim tauhid tidak ditentukan oleh banyaknya istilah, tetapi oleh sedikitnya syirik hati, halusnya adab, dan luasnya maslahat. Tinggi rendahnya tauhid bukan pada suara yang keras, melainkan pada jiwa yang tunduk. Dan inilah doa paling tepat dari ayat ini:

 

“Ya Allah, sebagaimana Engkau menghidupkan bumi dengan hujan, hidupkanlah hatiku dengan tauhid—agar pengakuanku menjadi ketaatan, ilmuku menjadi adab, dan akalku berjalan sampai sujud.”




Duka cita pemkab rohul

Mutiara Spesial Deal

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.