Tajrid Silaturahmi, Nur Hidayah, dan Harap Syafaat Rasulullah

Opini Jumat, 13 Maret 2026 - 13:37 WIB
Tajrid Silaturahmi, Nur Hidayah, dan Harap Syafaat Rasulullah

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

 

Di zaman yang penuh kebisingan ini, manusia semakin mudah terhubung, tetapi tidak selalu semakin dekat. Teknologi mempercepat komunikasi, namun tidak otomatis melembutkan hati. Banyak orang bisa saling berkabar, tetapi tetap saling asing. Banyak keluarga masih berkumpul, tetapi jiwanya tercerai. Banyak persaudaraan tampak utuh di permukaan, tetapi rapuh di dalam. Pada titik inilah ungkapan “tajrid silaturahmi nur syafaat Rasulullah menjadi menarik untuk ditadabburi. Ia memang bukan istilah baku dalam nash, tetapi sebagai ungkapan ruhani, ia mengandung arah makna yang dalam: bahwa hubungan antarmanusia harus dimurnikan karena Allah, agar darinya lahir cahaya hidayah, lalu dari cahaya itu tumbuh harapan kepada rahmat Allah dan syafaat Rasulullah ?.

 

Secara paling dasar, silaturahmi dalam Islam bukan sekadar etika sosial. Ia adalah bagian dari bangunan takwa. Karena itu, Al-Qur’an tidak meletakkannya hanya sebagai anjuran moral, tetapi dalam konteks hubungan manusia dengan Allah. Menjaga rahim berarti menjaga amanah kemanusiaan. Memutusnya berarti merusak satu simpul penting dalam tatanan hidup yang Allah kehendaki. Maka silaturahmi bukan soal sopan santun belaka, melainkan tanda apakah hati manusia masih hidup atau sudah dikuasai ego. Inilah yang membuat frasa tajrid silaturahmi menjadi penting: ia menggeser silaturahmi dari kebiasaan budaya menjadi latihan spiritual.

 

Kata tajrid dalam renungan ini dapat dipahami sebagai proses melepaskan hubungan dari kotoran niat. Banyak orang tampak berbuat baik, tetapi sesungguhnya digerakkan oleh kebutuhan dipuji, dihormati, dibalas, atau diingat jasanya. Di sinilah Islam mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: amal yang sama secara lahir bisa sangat berbeda nilainya di sisi Allah, tergantung niat yang menghidupkannya. Berkunjung kepada keluarga, membantu saudara, menghubungi kerabat, atau memaafkan orang yang menyakiti bisa menjadi ibadah yang agung jika dilakukan karena Allah. Tetapi amal yang sama dapat menjadi ringan nilainya jika ia sekadar alat membangun citra atau meneguhkan keakuan. Maka tajrid adalah pemurnian orientasi: dari manusia menuju Allah, dari pujian menuju ridha, dari transaksi menuju ibadah.

 

Dalam bahasa yang lebih populis, tajrid silaturahmi berarti menyambung hubungan tanpa terlalu sibuk menghitung-hitung siapa lebih dulu, siapa lebih banyak, siapa kurang perhatian, siapa lebih bersalah. Sebab banyak hubungan rusak bukan karena masalah besar, tetapi karena tumpukan “aku”. Aku merasa paling terluka. Aku merasa harus didatangi dulu. Aku merasa lebih berjasa. Aku tidak mau mengalah. Aku tidak ingin direndahkan. Pada titik ini, problem hubungan ternyata bukan pertama-tama problem orang lain, tetapi problem diri. Dan justru di sini Al-Qur’an mendidik kita: sebelum memperbaiki hubungan ke luar, luruskan dulu pusat batin di dalam.

 

Makna batin dari frasa ini menjadi tampak ketika kita menyadari bahwa silaturahmi bukan hanya peristiwa sosial, tetapi juga cermin keadaan jiwa. Jiwa yang sehat akan lebih mudah memaafkan, lebih mudah merangkul, lebih ringan menyambung yang putus. Sebaliknya, jiwa yang penuh ujub, dendam, sombong, dan rasa paling benar akan selalu menemukan alasan untuk menjauh. Maka tajrid di lapisan batin adalah peluluhan ego. Ia bukan penghapusan kepribadian, tetapi penundukan nafsu agar hati kembali dipimpin oleh adab. Dari sini kita paham bahwa silaturahmi yang benar bukan sekadar bertemu secara fisik, melainkan menghadirkan hati yang lebih bening di hadapan Allah dan sesama.

 

Dari tajrid inilah lahir nur. Dalam perspektif Qur’ani, nur bukan hanya simbol keindahan, melainkan lambang hidayah, kejernihan, keteraturan batin, dan keberkahan hidup. Nur adalah saat hati yang kusut mulai terang. Nur adalah saat hubungan yang tegang mulai teduh. Nur adalah saat lidah lebih terjaga, prasangka lebih bersih, dan keputusan lebih adil. Dengan demikian, cahaya di sini bukan pengalaman kabur yang tidak bisa diukur, tetapi buah nyata dari hati yang dibersihkan. Dalam bahasa filosofis, nur adalah tertib batin yang memungkinkan manusia melihat realitas secara lebih jernih. Ketika ego surut, manusia tidak lagi membaca relasi hanya dari luka dan kepentingannya sendiri, melainkan dari apa yang Allah cintai dan ridhai.

 

Karena itu, silaturahmi bukan perkara kecil. Ia menyentuh dimensi ontologis manusia: bagaimana ia hadir di dunia, bagaimana ia memaknai diri, dan bagaimana ia menempatkan Allah sebagai pusat hidup. Jika Allah menjadi pusat, maka hubungan tidak lagi dibangun dengan pertanyaan: “Apa yang aku dapat?” tetapi dengan pertanyaan: “Apa yang Allah kehendaki dariku dalam hubungan ini?” Perubahan orientasi ini sangat besar. Dari sinilah lahir kesanggupan menyambung yang putus, menahan marah, memberi tanpa banyak menuntut, dan tetap berbuat baik meski tidak selalu dihargai.

 

Lalu, bagaimana frasa ini berhubungan dengan syafaat Rasulullah ?? Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, syafaat Nabi ? adalah haq, tetapi seluruhnya berada di bawah izin Allah. Karena itu, harap syafaat bukanlah klaim kosong dan bukan pula jaminan otomatis karena sebuah slogan. Ia adalah harapan seorang mukmin yang berusaha meniti sebab-sebabnya: memurnikan tauhid, mencintai Nabi ?, mengikuti sunnahnya, memperbaiki akhlaknya, dan menjaga hak manusia. Dalam konteks ini, silaturahmi menjadi sangat relevan, karena akhlak kepada manusia merupakan bagian nyata dari ittiba‘ kepada Rasulullah ?. Orang yang ingin berharap kepada syafaat Nabi tidak cukup hanya mengagungkan beliau dengan lisan; ia harus berusaha meneladani kelembutan, rahmat, kesabaran, dan keluasan dada beliau dalam pergaulan.

 

Di sinilah frasa “tajrid silaturahmi nur syafaat Rasulullah” menemukan bentuk tadabburnya yang paling indah. Ia tidak mengajarkan mistik yang lepas dari syariat, tetapi justru menegaskan jalan yang sangat Qur’ani: niat dibersihkan, hubungan diperbaiki, hati diterangi, lalu jiwa diarahkan kepada harap akhirat. Secara akademik, frasa ini memuat tiga poros etika Islam: tazkiyah niat, ishlah relasi, dan raja’ kepada rahmat Allah. Secara filosofis, ia memindahkan manusia dari orbit ego ke orbit tauhid. Secara populis, ia mengajarkan bahwa jalan menuju cahaya sering dimulai dari hal-hal sederhana tetapi berat bagi nafsu: menyapa duluan, meminta maaf, memaafkan, menghubungi yang lama terdiam, dan menahan keinginan untuk selalu menang sendiri.

 

Akhirnya, tadabbur ini mengajarkan satu hal yang sangat penting: hubungan yang dimurnikan karena Allah akan melahirkan cahaya dalam hati, dan hati yang bercahaya akan lebih layak berharap kepada rahmat Allah dan syafaat Rasulullah ?. Di sinilah keindahan Islam tampak. Ia tidak memisahkan ibadah kepada Allah dari akhlak kepada manusia. Ia tidak memisahkan tauhid dari kasih sayang. Ia tidak memisahkan harap akhirat dari perbaikan relasi di dunia. Maka siapa pun yang ingin meniti nur hidayah, jangan hanya mencari cahaya di langit-langi pikiran; carilah juga di dalam keberanian untuk menyambung yang putus, membersihkan niat, dan menjadikan Allah sebagai pusat setiap hubungan. Itulah tajrid yang melahirkan nur. Dan dari nur itulah seorang mukmin berjalan, dengan rendah hati, menuju rahmat Tuhannya.




Duka cita pemkab rohul

Mutiara Spesial Deal

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.