Bahasa Rindu

Oleh Helfizon Assyafei
Rindu datang tanpa debat, tanpa ribet, begitu saja. Tapi rindu bukan peristiwa tunggal. Bukan tiba-tiba. Kita tidak bisa merindu tanpa mengenal. Rindu adalah muara dari mengenal, menyukai, menyayangi dan mencintai. Tak kenal maka tak sayang tak sayang maka tak cinta.
Orang yang mengenal Ramadhan akan merasakan rasa itu. Rindu Ramadhan sudah terasa. Dimana-mana orang berziarah menyambung kembali seilaturahmi kepada orang-orang yang dicintai meski mereka tiada lagi. Mereka yang dulu pernah bersama kita telah ‘pulang’ ke asalnya. Dari DIA kembali pada-NYA.
Menunduk sejenak dinisan mereka. Berbicara dengan mereka. Seperi Rosul dulu ziarah ke makam istri tercintanya Khadijah. Seperti yang pernah dikisahkan para ulama. Nabi pernah tertunduk didepan makam orang yang paling dicintainya itu. “Khadijah..kini Mekah sudah bebas. Orang-orang berbondong memeluk Islam..”ujar Nabi.
Apakah itu artinya Nabi berbicara dengan orang mati? Tidak. Dalam Islam Nabi mengajarkan mengucapkan salam saat memasuki tempat pemakaman kaum muslimin. Padahal biasanya salam itu untuk orang yang hidup. Mengapa? Karena yang mati itu raga. Yang mati itu tubuh. Tubuh adalah benda. Sifat benda lapuk, kering, hancur.
Tapi jiwa/ruh tidak. Ia hanya berpindah tempat. Dari alam fana ke alam Barzah. Dan kelak terus menuju alam Baqa (kekal). Kita tak melihatnya lagi tapi dari alam lain Allah bisa izinkan mereka melihat kita. Sudah semak belukarkah pusara mereka? Datangilah. Doakanlah. Bersihkanlah..
Itulah sebabnya kematian tidak memutuskan silaturahmi batin. Nama mereka, jiwa mereka hidup dihati kita. Hidup dalam doa-doa kita. Makam mereka hanya tanda bahwa itu tempat jasad mereka ditanam. Tapi jiwa mereka bisa berada ditempat yang tinggi ataupun sebaliknya. Tergantung amalnya di dunia. Mereka memerlukan doa-doa kita.
Bila kita selama hidup berjuang jadi orang baik, orang soleh dan yang wafat dari keluarga kita juga melakukan hal yang sama semasa hidupnya, yakinlah perpisahan dunia ini hanya sementara. Kelak saatnya tiba keluarga yang soleh akan berkumpul bersama lagi dialam yang jauh lebih baik dari tempat kita sekarang ini.
Tidak semua orang bisa pergi ke Mekah tempat yang mulia. Tapi semua orang bisa didatangi waktu yang mulia yakni bulan Ramadhan. Sebuah bulan suci yang dimuliakan Allah karena didalamnya diturunkan AlQuran. Sebuah bulan yang selalu dirindukan oleh pencari kesejatian hidup. Para pejalan ruhani. Orang-orang soleh.
Saya menunduk dimakam emak dan bapak. Saya berkata pada mereka. “Mak-Bapak, saya, istri dan anak-anak serta kakak datang. Minta maaf kami semua. Ramadhan kan tiba. Tak terbalas apa telah mak/bapak lakukan. Hanya doa kami semoga bahagia disana. Semoga kelak Allah SWT mengizinkan kita berkumpul di Surga-Nya, amiin.”
Pekanbaru, 16 Februari 2026










