Iman di Tengah Zaman Fitnah

Opini Jumat, 20 Februari 2026 - 09:59 WIB
Iman di Tengah Zaman Fitnah

(Dari Wahyu yang Lurus ke Benteng Penangkal Dajjal Zaman Modern)

 

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab

 

Di zaman banjir informasi, yang paling langka bukan data, tetapi arah. Karena itu Al-Kahfi membuka dengan dua fondasi: Kitab yang lurus dan Rasul yang hamba. Kitab menegakkan neraca benar-salah; kehambaan menumbangkan ego merasa paling tahu. Inilah obat awal untuk fitnah modern: jangan jadikan tren sebagai imam, dan jangan jadikan diri sebagai hakim atas wahyu.

 

Surah Al Kahfi mengajarkan cara menghadapi ujian zaman fitnah ini.

 

Dari Ayat 1–10: Fondasi Bertahan

 

QS 18:1–10 memetakan prinsip dasar perlindungan iman. Al-Qur’an itu qayyim: menegakkan hidup dengan dua sayap—inzar (peringatan) dan busyra (kabar gembira). Pendidikan ruhani tidak bisa hanya ancaman (membuat jiwa kering), juga tidak bisa hanya motivasi manis (membuat jiwa lalai). Di sini Al-Kahfi sangat seimbang: takut mendisiplinkan, harap menghidupkan.

 

Ayat-ayat awal juga meruntuhkan cara pandang instan. Janji pahala kekal mengajari kita bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh “cepat terlihat”, tetapi oleh “tetap bernilai di sisi Allah”. Inilah koreksi terhadap budaya viral: sesuatu bisa populer tetapi tidak bernilai; bisa sunyi tetapi sangat tinggi di sisi Rabb.

 

Lalu Al-Kahfi menegur penyimpangan akidah dan klaim tanpa ilmu. Ini sangat relevan saat banyak orang berbicara agama dengan potongan konten tanpa metodologi. Secara zahir, kita diperintah kembali kepada dalil; secara batin, kita dididik rendah hati ilmiah: tahu batas diri, belajar kepada ahli, tidak tergesa menghakimi.

 

Saat Allah menenangkan Nabi agar tidak “membinasakan diri” karena sedih atas penolakan manusia, di situ ada etika dakwah lintas zaman: tugas kita menyampaikan dengan ihsan; hidayah milik Allah. Ini menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal. Di titik ini, Al-Kahfi melahirkan dai yang kuat tapi lembut, serius tapi tidak putus asa.

 

Ayat tentang “perhiasan dunia” (zinah) mengajarkan bahwa dunia adalah medan ujian, bukan rumah tujuan. Nikmat bukan musuh, tetapi amanah. Boleh memiliki, jangan dimiliki. Dan ketika Allah menyatakan bumi yang indah kelak jadi tandus, kita diingatkan tentang kefanaan: yang abadi hanya amal yang ikhlas.

 

Puncak segmen awal adalah Ashhabul Kahfi: pemuda yang tidak hanya berdoa, tetapi juga mengambil langkah strategis menjaga iman. Ini pelajaran praktis: keselamatan akidah perlu doa + keputusan + lingkungan. “Gua” masa kini bisa berupa majelis ilmu, pergaulan saleh, disiplin ibadah, dan adab digital.

 

 

Dari Ayat 100–110: Diagnosa Fitnah Akhir Zaman

 

Jika ayat 1–10 adalah fondasi, maka ayat 100–110 adalah “uji ketahanan”. Allah memperlihatkan Jahannam bagi para penolak kebenaran: akhirat nyata, bukan metafora. Secara batin, neraka itu mulai bersemi di dunia ketika hati kehilangan dzikir, akal dikuasai hawa, dan lisan meremehkan kebenaran.

 

Kebutaan yang disebut ayat 101 bukan kekurangan informasi, tapi penolakan adab menerima petunjuk. Inilah wajah “dajjal modern”: membanjiri manusia dengan pengetahuan, tapi memiskinkan hikmah; membuat orang cerdas menganalisis, namun malas tunduk.

 

Ayat 102 menelanjangi loyalitas palsu: manusia mengambil selain Allah sebagai pelindung mutlak. Hari ini berhala itu bisa berupa citra, angka, jabatan, pasar, algoritma, dan opini publik. Fitnah Dajjal selalu bekerja dengan pola yang sama: membuat yang relatif terasa absolut. Penangkalnya adalah tahqiq tauhid—mengembalikan pusat takut, cinta, harap, dan ketergantungan hanya kepada Allah.

 

Ayat 103–104 adalah cermin paling tajam: ada yang paling rugi amalnya—bekerja keras, merasa benar, tetapi tersesat. Ini kritik terhadap agama performatif: banyak aktivitas, minim muhasabah. Dalam manhaj Sunni (klasik maupun kontemporer), amal diterima jika dua syarat terpenuhi: ikhlas dan mutaba‘ah (sesuai tuntunan Nabi). Dajjal modern suka kuantitas tampilan; Al-Kahfi menuntut kualitas penerimaan.

 

Ayat 105–106 memperingatkan: ketika akhirat disingkirkan dari kesadaran, etika runtuh jadi kalkulasi sesaat. Agama dijadikan bahan olok-olok, kesucian jadi komedi, batas syariat dicap hambatan. Al-Kahfi menegaskan: kebebasan tanpa adab berakhir pada kehancuran martabat.

 

Namun Al-Kahfi menutup dengan harapan besar: Firdaus bagi iman dan amal saleh (107–108), kerendahan hati ilmiah karena kalimat Allah tak terbatas (109), lalu formula final (110): tauhid murni + amal saleh. Inilah antidot paling kuat terhadap fitnah apa pun, termasuk fitnah Dajjal.

 

 

Makna Zahir dan Batin yang Terintegrasi Secara zahir, Al-Kahfi menuntun kita kepada: sumber ilmu yang lurus (wahyu), disiplin amal yang benar (sesuai sunnah), etika sosial yang amanah, orientasi akhirat yang tegas.

 

Secara batin, Al-Kahfi membersihkan: riya’ menjadi ikhlas, ujub menjadi tawaduk, cemas dunia menjadi tawakal, kagum citra menjadi rindu liqa’ Allah.

 

Kerangka Populis–Akademik–Filosofis

 

Populis:

Jangan tertipu yang tampak hebat; jadilah yang benar. Jangan jadi budak sorotan; jadilah hamba Allah. Jangan hidup untuk tepuk tangan; hiduplah untuk keridhaan.

 

Akademik:

Al-Kahfi membentuk epistemologi iman: wahyu sebagai norma, sunnah sebagai metodologi, muhasabah sebagai evaluasi, maslahat sebagai dampak.

 

Filosofis:

Masalah manusia modern bukan kurang kebebasan, tetapi salah pusat orientasi. Saat ego jadi pusat, manusia tersesat dalam citra. Saat Allah jadi pusat, hidup menemukan makna, batas, dan arah.

 

 

Program Tadabbur–Amal Penangkal Fitnah

Pertama. Fahm: baca Al-Kahfi rutin (khususnya awal/akhir), pahami makna.

Kedua. Muhasabah harian: periksa niat, lisan, dan amanah kerja.

Ketiga. Iltizam amal: perbaiki satu amal konkret per hari.

Keempat. Istiqamah doa: mohon perlindungan dari fitnah yang tampak dan tersembunyi.

Kelima. Lingkungan iman: bangun “gua” kolektif—majelis ilmu, sahabat saleh, budaya saling menguatkan.

 

 

Terakhir

Integrasi Al-Kahfi 1–10 dan 100–110 memberi satu kesimpulan besar: benteng iman bukan dibangun oleh ketakutan semata, tetapi oleh wahyu yang lurus, tauhid yang jujur, ilmu yang rendah hati, dan amal yang istiqamah. Dajjal modern menjual ilusi citra; Al-Kahfi mengembalikan kita pada hakikat ubudiyah.

Siapa ingin selamat di zaman bising: pegang Kitab yang tidak bengkok. Siapa ingin kuat di zaman fitnah: jadilah hamba sebelum ingin jadi tokoh. Siapa ingin akhir yang mulia: luruskan niat, benarkan amal, dan jaga tauhid sampai akhir hayat.




Duka cita pemkab rohul

Mutiara Spesial Deal

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.