Puasa sebagai Bahasa Ibadah yang Universal

Opini Jumat, 20 Februari 2026 - 10:11 WIB
Puasa sebagai Bahasa Ibadah yang Universal

Oleh Ilham Muhammad Yasir*

MEMASUKI hari kedua Puasa Ramadan, banyak orang mulai merasakan pelajaran yang paling nyata dari puasa: tubuh mungkin lemah, tetapi justru di situlah hati diuji. Lapar dan dahaga seperti “alarm” yang mengingatkan kita betapa sering manusia dikendalikan kebiasaan, emosi, dan keinginan.

Puasa datang bukan sekadar mengubah pola makan, melainkan mengubah cara memandang hidup: yang biasa terasa “wajar” dipertanyakan, yang selama ini dibiarkan akhirnya ditertibkan. Ramadhan, dengan demikian, adalah momentum untuk menata diri dari dalam, bukan sekadar memperindah rutinitas dari luar.

Menariknya, puasa bukanlah ibadah yang eksklusif hanya milik umat Islam. Dalam tradisi agama-agama samawi, Islam, Kristen, dan Yahudi, puasa dikenal sebagai jalan penyucian diri, bentuk pertobatan, dan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Perbedaannya terletak pada sistem, waktu, dan tekanannya. Tetapi intinya sama: menundukkan dorongan-dorongan manusia agar ruang batin lebih lapang untuk selalu berdoa, refleksi, dan kebaikan.

Maka, ketika Islam mewajibkan Puasa Ramadhan, ia sebenarnya menegaskan satu hal: manusia memang membutuhkan latihan periodik untuk memulihkan arah hidupnya.

Dalam Islam, Puasa Ramadan adalah kewajiban yang jelas kedudukannya. Ia dilaksanakan pada bulan kesembilan kalender Hijriah, dengan batasan tegas: menahan diri dari makan, minum, hubungan suami-istri, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Kerangka yang rinci ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar niat baik, tetapi disiplin yang menuntut keteguhan. Karena disiplin itulah puasa menjadi pendidikan karakter yang mengajarkan kesabaran, melatih pengendalian diri, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Dasar Al-Qur’annya sangat terang. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2:183): “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”  Di sini puasa tidak berhenti pada status wajib, tetapi langsung diarahkan pada tujuan: takwa. Ayat-ayat berikutnya menjelaskan ketentuan, keringanan bagi yang sakit atau musafir, sekaligus menegaskan Ramadhan sebagai bulan turunnya Al-Qur’an. Maka, puasa bukan hanya ibadah badan, tetapi juga ibadah sarat makna: ia menyambungkan disiplin ragawi dengan kesadaran rohani.

Dalam tradisi Kristen, puasa dikenal kuat dalam masa Pra-Paskah (Lent), selama 40 hari sebelum Paskah. Puasa ini dipahami sebagai ruang pertobatan dan penyerahan diri meneladani kisah Yesus yang berpuasa 40 hari di Padang Gurun. Yang menarik, puasa dalam Kristen juga ditekankan pada etika batin: jangan menjadikannya pertunjukan, tetapi lakukan dengan ketulusan. Pesannya jelas: puasa tanpa kejujuran hati bisa berubah menjadi rutinitas kosong.

Sementara dalam Yahudi, puasa sangat terkait dengan penebusan dosa dan permohonan ampun, terutama pada Yom Kippur (Hari Pengampunan) yang dijalankan sekitar 25 jam. Dalam rentang itu, umat Yahudi menahan diri dari makan, minum, dan berbagai aktivitas sebagai simbol merendahkan diri di hadapan Tuhan. Lagi-lagi, intinya bukan semata menahan, tetapi memurnikan agar manusia kembali sadar bahwa ia lemah dan butuh bimbingan Ilahi.

Dari perbandingan ini, kita memahami bahwa puasa memiliki dua wajah sekaligus: wajah spiritual dan wajah sosial. Ia menata hubungan vertical, mendekatkan hamba kepada Tuhan dan menata hubungan horizontaldan membangkitkan empati pada sesama. Lapar membuat orang kenyang belajar mengerti, dahaga membuat yang berpunya belajar berbagi. Itulah sebabnya puasa kerap melahirkan dorongan sedekah, memperhalus lisan, dan menahan amarah, karena puasa sejatinya mengajarkan satu hal yang paling sulit menguasai diri sendiri.

Maka pada hari kedua Ramadan ini, kita patut bertanya: apakah puasa kita sudah menyentuh inti? Jika puasa hanya memindahkan jam makan, kita baru menyentuh kulitnya. Tetapi jika ia membuat kita lebih jujur, lebih sabar, lebih lembut, dan lebih peduli, maka puasa telah menjadi madrasah yang hidup mengantar kita pada tujuan yang disebut Al-Qur’an: takwa, dan pada saat yang sama, menjadikan kita lebih manusiawi.***

            *adalah jurnalis dan penulis lepas tinggal di Pekanbaru.

 




Duka cita pemkab rohul

Mutiara Spesial Deal

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.